Posted by: h1a007034 on: April 13, 2008
Posted by: h1a007034 on: April 12, 2008
A. Taenia saginata
Cacing pita dari sapi, telah dikenal sejak dahulu; akan tetapi identifikasi cacing baru menjadi jelas setelah tahun 1782, karena karya Goeze dan Leuckart. sejak waktu itu, diketahui adanya hubungan antara infeksi cacing Taenia saginata dengan larva sisteserkus bovis, yang ditemukan pada daging sapi, bila seekor anak sapi diberi makan proglotid cacing Taenia saginata maka pada dagingnya akan ditemukan Sisteserkus bovis
Cacing pita Taenia saginata adalah salah satu cacing pita yang berukuran besar dan panjang; terdiri dari kepala yang disebut skoleks, leher dan strobila yang merupakan rangkaian ruas-ruas proglotid, sebanyak 1000 – 2000 buah. panjang cacing 4 – 12 meter atau lebih. Skoleks hanya berukuran 1 – 2 milimeter, mempunyai empat batil isap dengan otot-otot yang kuat, tanpa kait-kait. Bentuk leher sempit, ruas-ruas tidak jelas dan didalamnya tidak terlihat struktur tertentu.
Cacing dewasa Taenia saginata, biasanya menyebabkan gejala klinis yang ringan, seperti sakit uluhati, perut merasa tidak enak , mual, muntah, mencret, pusing atau gugup. Umumnya gejala tersebut berkaitan dengan ditemukannya cacing yang bergerak-gerak dalam tinja, atau cacing yang keluar dari lubang dubur; yang keluar sebenarnya proglotid. Gejala yang lebih berat terjadi, yaitu apabila proglotid menyasar masuk apendiks, atau terdapat ileus yang disebabkan obstruksi usus oleh strobila cacing.
B. Taenia solium
Cacing pita dari babi, diketahui sejak Hippocrates, atau mungkin sudah sejak Nabi Musa walaupun pada waktu itu belum dapat dibedakan antara cacing pita daging sapi dengan ccaing pita daging babi, sampai pada karya Goeze (1782).
Cacing pita Taenia solium, berukuran panjang kira-kira 2 – 4 meter dan kadang-kadang sampai 8 meter. Cacing ini seperti cacing Taenia saginata, terdiri dari skholeks, leher dan strobila, yang terdiri dari 800 – 1000 ruas proglotid. Skoleks yang bulat berukuran kira-kira 1 milimeter, mempunyai 4 buah batil isap dengan rostelum yang mempunyai 2 bait kait-kait, masing-masing sebanyak 25 – 30 buah.
Cacing dewasa, yang biasanya berjumlah seekor, tidak menyebabkan gejala klinis yang berarti. bila ada, dapat berupa nyeri ulu hati, mencret, mual, obstipasi dan sakit kepala. Darah tepi dapat menunjukkan eosinofilia
Posted by: h1a007034 on: Maret 30, 2008
W.bancrofti merupakan parasit manusia dan menyebabkan filariasis bankrofti atau wukereriaisis bankrofti. Penyakit ini tergolong dalam filariasislimfatik, bersamaan dengan penyakit yang disebabkan oleh Brugia malayi dan Brugia timori W.bancrofti tidak terdapat secara alami pada hewan.
Cacing dewasa jantan dan betina hidup di saluran dan kelenjar limfe. bentuknya halus seperti benang dan berwaena putih susu. Yang betina berukuran 65 – 100 m X 0,25 mm dan yang jantan 40 mm x 0,1 mm. Cacing betina mengeluarkan mikrofilaria yang bersarung dengan ukuran 250 – 300 mikron x 7 – 8 mikron. Mikrofilaria ini hidup di dalam darah dan terdapat di aliran darah tepi pada waktu tertentu saja.

Gejala klinis filariasis limfatik dapat dibagi dalam dua kelompok. Yang disebabkan cacing dewasa menimbulkan limfadenitis dan limfangitis retrograd dalam stadium akut, disusul dengan obstruktif menahun 10 sampai 15 tahun kemudian.
Miklofilaria yang biasanya tidak menimbulkan kelainan, dalam keadaan tertentu dapat menyebabkan occult filariasis. Perjalanan penyakit filariasis limfatik dapat dibagi dalam beberapa stadium; stadium mikrofilaremia tanpa gejala klinis, stadium akut dan stadium menahun.
Posted by: h1a007034 on: Maret 11, 2008
Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!